Laman

20 Okt 2011

Hukum Ijtihad, (Menjawab Tulisan Kiyai Mahrus Ali)


(Untuk baca dialog ana dengan beliau sebelumnya klik di sini.)

Assalamu`alaikum… Pak Kiyai… Karena menulis di komentar aga sulit, ruangannya sempit dan koneksi kurang, maka ana tulis dulu di word, lalu ana posting di sini… afwan..

Pak Kiyai, Berarti kita harus membuka kitab2 yang dulu pernah dibaca selama proses pembelajaran.

1.      Rasulullah melarang para sahabat untuk menulis selain Qur'an: Di dalam shahih Muslim Kitab Zuhud wa Roqoiq bab Tatsbit fil Hadits wa Hukmu Kitabatil `Ilm...
حدثنا هداب بن خالد الأزدي حدثنا همام عن زيد بن أسلم عن عطاء بن يسار عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: "لا تكتبوا عني و من كتب عني غير القرآن فليمحه و حدثوا عني و لا حرج و من كذب علي" -قال همام أحسبه- "متعمدا فليتبوأ مقعده من النار" - مسلم
Selain oleh imam Muslim, hadis ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi Rahimahumullah. Masihkah itu dha`if?
Pengumpulan Hadis dimulai ketika zaman Umar bin Abdul Aziz, itulah Ijtihad beliau yang pertama kali memerintahkan pengumpulan hadis hingga generasi2 setelahnya hadis telah terkumpul dalam musnad-musnad. jika itu bukan Ijtihad Umar bin Abdul Aziz, lalu antum sebut ini apa? apakah Umar bin Abdul Aziz dan generasi2 setelahnya melawan larangan rasulullah??
2.      Tentang pengumpulan Qur'an, antum sudah tahu hadisnya, nah pengumpulan qur'an itu adalah ijtihad dari Sayyidina Umar sehingga beliau membujuk Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkannya. Hadis itu shahih kan? itu dipakai oleh para ulama sebagai hujjah bahwa Rasulullah dan para sahabat saja berijtihad. masih kurang dalil?

3.      Untuk surat Abasa, ana ambil dari kitab "At-Tasyri` Al-Islami wa madaris fiqhiyah mu`ashirah" karya Dr. Muhammad bin Ibrahim percetakan Darussalam Cairo 2010. di sana tertulis...
جاء عبد الله بن أم مكتوم (الأعمى) و جعل يقول: يا محمد استدنني! و في رواية و هي أصح: يا رسول الله علمني مما علمك الله! و في أخرى: يا رسول الله أرشدني! و عند رسول الله نفر من أكابير قريش, كان رسول الله يحاورهم مقبلا عليهم بالحديث طمعا في إسلامهم, فأعرض عن هذا الصحابي الضرير بوجهه و عبس فنزلت الآيات تعاتب و تصوب و تبين له وجه الخطأ في الاجتهاد....
Itu dari buku kontemporer, untuk riwayat tentang itu antum bisa buka Tafsir Ibnu Jarir At-Thabari, Ibnu Katsir, Sayyid Thanthawi, (yang juga ana buka) dan beberapa tafsir lainnya. Haruskah ana tulis semuanya dengan bahasa arab?? Padahal antum bisa buka sendiri.

4.      Dalil ijtihad “yang benar dapat dua pahala dan jika salah dapat satu pahala” saja antum bilang lemah, padahal hadis itu muttafaq `alaih, tapi masih antum pertanyakan. Maka, ingin dalil yang bagaimana lagi??

5.      Dalam Al-Qur’an disebutkan :
فاعتبروا يا أولي الأبصار – الحشر 2
Memang tidak ada perintah dari Rasulullah secara gamblang tentang ijtihad, namun ijtihad telah dilakukan oleh rasulullah dan para sahabat serta generasi-generasi setelahnya. Maka riwayat-riwayat inilah yang dijadikan pegangan oleh para ulama bahwa ijtihad sudah ada sejak zaman salaf, bahkan rasulullah saja melakukannya.

Antum pasti sudah mengetahui hal-hal ini:
-          Ijtihad Rasulullah mengenai tawanan perang badar, beliau meminta pendapat Abu Bakar, lalu Umar. Dan akhirnya mengambil pendapat Abu Bakar.
-          Ijtihad Abu Bakar untuk memerangi para penentang zakat, padahal Umar dan beberapa sahabat lainnya menolak pendapat Abu Bakar Radhiyallahu `Anhum.
-          Ijtihad Umar bin Khattab untuk tidak memotong tangan pencuri dalam masa paceklik.
-          Ijtihad Utsman bin `Affan untuk menyalin Al-Qur’an yang tersimpan di rumah istri Rasulullah kepada beberapa salinan lalu menyebarkannya dan memerintahkan untuk membakar selainnya.
-          Ijtihad Ali bin Abi Thalib untuk menerima tahkim dan melepaskan kehalifahan yang beliau pegang. Dan berbagai contoh lainnya, haruskah itu ana tuliskan dengan bahasa arabnya padahal antum pastinya sudah pernah membaca?

6.      Setelah ana baca tulisan antum tentang “Hukum Ijtihad”, ana pikir memang titik permasalahannya ada dalam “Perbedaan pemahaman” antara ana dan antum tentang ijtihad.
Ijtihad itu usaha untuk mendapatkan hukum dari dalil Syar`i. Namun antum menganggap Ijtihad adalah “Berpendapat” dalam agama tanpa dalil. Ya tidak akan ada titik temu antara kita karena tentang ijtihad saja kita berbeda pemahaman.

Ittiba` dengan dalil, mengambil hukum dari Qur’an dan Sunnah itu juga ijtihad. “Menentukan Hukum Berlandaskan Dalil” itu juga adalah ijtihad. Maka, setuju atau tidak, Antum Juga Telah berIJTIHAD! Afwan.